Senin, 10 September 2018

Susahnya Kuliah di Luar Negeri (part 1): Cerita Seminggu Pertama Kuliah

Hai, kali ini aku mau berbagi kesusahan yang aku rasakan sejak kali pertama kuliah di program MScBA Accounting & Financial Management, Rotterdam School of Management.

Erasmus University Rotterdam

Kenapa susahnya aja? Karena aku yakin kalo sukanya pasti sudah banyak yang tahu. Sudah banyak mahasiswa di luar negeri yang berbagi tentang ini tentunya. Atau dengan menebak sendiri, kalian juga bisa tahu. Aku rasa, kalau melihat sesuatu yang kita inginkan, kita akan melihat enaknya saja, dan kalau menghadapi sesuatu yang kita takutkan, kemungkinan yang akan terlihat adalah hal yang buruknya saja. Padahal sebenarnya sih nggak ada hal yang buruk. Setiap yang terjadi adalah kehendak-Nya, jadi itu pasti yang terbaik. Cuma kadang, kita sudah paham teorinya, tapi praktiknya mungkin beda lagi.

Sejak tanggal 6 September 2018, aku sudah mulai kuliah. Sebenarnya tanggal 3 dan 5 September 2018 ada orientation days, semacam acara sebelum masuk ke perkuliahan, jadi bisa ketemu sama teman-teman sejurusan. Sayangnya aku nggak ikut, karena harus bayar dan saat itu aku belum punya kartu kredit (sampai sekarang sih), dan saat hari terakhir aku mau daftar, ada kendala teknis.

Rasanya masuk kuliah tanpa kenal seorangpun itu sangat nggak enak. Hari pertama kuliah, kelasnya besar, dengan jumlah mahasiswa sekitar 90 lebih. Seharusnya, dengan umur yang sudah sedewasa ini, harusnya aku bisa tenang. Harusnya. Tapi ini adalah pertama kalinya aku merasakan kuliah di luar negeri, dengan mahasiswa yang sangat beragam dari berbagai negara. Ditambah lagi, terakhir kali aku kuliah adalah 3,5 tahun yang lalu.

Kelas yang aku masuki bentuknya seperti bioskop, nggak sama persis tapi mirip. Saat itu yang aku pikirkan adalah aku harus punya kenalan. Akhirnya aku berhasil ngobrol dengan mas dari Italia yang duduknya jarak satu bangku denganku. Sebenarnya menurutku, di sini anak-anaknya baik kalua diajak ngobrol, lebih responsive gitu. Mereka helpful. Hanya saja, aku belum nemu caranya gimana bias membangun pertemanan yang bagus. Beda budaya, beda latar belakang, itu nggak masalah sebenarnya. Mungkin perlu waktu untuk lebih mengenal aja.

Ruang Perkuliahan, Erasmus University Rotterdam

Oh ya, aku introvert. Buat sebagian orang, mungkin masalah pertemanan itu hal kecil. Tapi buat aku beda lagi. Sebenarnya, aku nggak terlalu suka dengan percakapan yang menanyakan hal-hal ringan seperti: kamu dari mana? dulu kuliah di mana? dll. Tapi, mau nggak mau itu juga dibutuhkan apalagi di sini. Sebagai anak baru yang nggak kenal siapa-siapa, kalau diam aja terus susah juga untuk kenal yang lain. Apalagi sebagian besar kayaknya udah punya circle pertemanan sendiri-sendiri.

Ya, jadi itu kesusahan pertama. Masalah teman. Sepele mungkin. But, honestly, sometimes I feel lonely. Padahal sebenarnya sebagai introvert, kemana-kemana sendiri, menghabiskan waktu di kamar, itu bukan masalah. Betah-betah aja. Yang jadi masalah adalah saat ada yang nanya, "eh kok kemana-mana sendiri sih? nggak punya teman atau gimana?" Di saat itulah kadang aku jadi mikir, emang salah ya? Begitulah, terlalu mikirin omongan orang. Di sini, beda lagi. Bukan hal aneh lagi lihat orang-orang punya aktivitas sendiri. Nggak ada yang peduli atau mikir aneh-aneh tentang itu. Mungkin ada sih, tapi nggak diutarakan. Di sini, saat nggak mudah nemu orang yang suka ikut campur urusan orang. Di titik ini aku ngerasa bahwa aku sendirian.


Cerita ini belum selesai. Aku akan lanjutin ceritanya lain kali. See you.