Dua hari lalu aku ke stasiun Rotterdam Centraal karena temanku main ke Rotterdam. Karena aku datangnya terlalu awal, jadinya aku nunggu di dalam stasiun, tapi masih di luar gate tempat tap tiket. Aku duduk di dekat tourist information sambil main hp. Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki nyamperin, tapi nggak ikut duduk, masih berjarak 2 meter-an lah.
Dia nanya tapi pake bahasa asing, kayaknya belanda. Jadi aku langsung ngomong, "sorry, I can't speak …"
Terus, dia langsung ganti bahasa ke inggris.
"Are you okay?" Tanyanya. "Karena aku lihat kamu duduk di sini cukup lama."
"Oh, yeah, I'm fine. I am just waiting for my friend." Jawabku.
"Baguslah. Kamu cukup lama disini, jadi aku tanya." Intinya begitu, dia tampak lega karena mungkin sebelumnya dia khawatir aku ada masalah gitu.
"Because you are muslim," lanjutnya.
"Thank you."
"OK, have a nice day."
Dan aku bahagia, waktu dia bilang, "because you are muslim." Harusnya begitu memang, seorang muslim dengan muslim lainnya, saling peduli, perhatian. Karena Allah. Dan dia menunjukkan padaku bagaimana seorang muslim yang baik dengan sikapnya. Karena sesama muslim itu saudara, this is what I like about islam. Meskipun nggak saling kenal, beda bahasa, beda ras, beda budaya, beda negara, it doesn't matter. Dan kalau kita sudah bisa memperlakukan saudara sendiri dengan baik, maka kita juga akan bisa melakukan yang sama ke orang lain.
Di sini, dengan hijab yang aku pakai, memang sepertinya semua orang bisa mengenali aku sebagai seorang muslim. Dan aku suka. Waktu ke Swiss, ada yang nyamperin, "muslim?" terus ngajak ngobrol, sayangnya terkendala bahasa. Dia ngomong pakai bahasa perancis, sementara aku ngertinya cuma 'oui', sama ngenalin nama. Pernah juga ketemu pedagang, lagi nawarin dagangan, terus bilang, "muslim. Assalamualaikum." Juga pernah makan di tempat makan dan diingetin untuk baca bismillah. Beberapa kali aku papasan sama orang terus ada yang ngucap salam juga. Atau ketemu seorang ibu berhijab yang senyum saat melihatku. I know why, "because she knew I'm muslim." Waktu nyari tempat sholat di kampus juga ada yang nanya, "prayer room?" dan dia langsung menunjukkan tempatnya. Karena hijabku, dia bisa nebak tujuanku meskipun aku nggak nanya sebelumya. Jujur, hal-hal seperti itu sangat berarti. I feel peaceful. Meski aku berada di tempat yang nggak terdengar suara adzan. I know I'm not alone.
Tapi, sebenarnya juga aku punya tanggung jawab yang besar. Karena dengan hijabku, orang bisa langsung tahu kalau aku muslim. Secara nggak langsung, mereka juga akan melihatku sebagai representasi islam. Mungkin, mereka akan menilai islam dari apa yang mereka lihat di aku. I don't know. Somehow I feel that I'm not a good muslim. Aku takut kalau mereka melihat keburukan dariku mereka akan mengaitkannya dengan islam. Semoga nggak.
Apapun itu, aku suka saat dikenali sebagai muslim.
Dia nanya tapi pake bahasa asing, kayaknya belanda. Jadi aku langsung ngomong, "sorry, I can't speak …"
Terus, dia langsung ganti bahasa ke inggris.
"Are you okay?" Tanyanya. "Karena aku lihat kamu duduk di sini cukup lama."
"Oh, yeah, I'm fine. I am just waiting for my friend." Jawabku.
"Baguslah. Kamu cukup lama disini, jadi aku tanya." Intinya begitu, dia tampak lega karena mungkin sebelumnya dia khawatir aku ada masalah gitu.
"Because you are muslim," lanjutnya.
"Thank you."
"OK, have a nice day."
Dan aku bahagia, waktu dia bilang, "because you are muslim." Harusnya begitu memang, seorang muslim dengan muslim lainnya, saling peduli, perhatian. Karena Allah. Dan dia menunjukkan padaku bagaimana seorang muslim yang baik dengan sikapnya. Karena sesama muslim itu saudara, this is what I like about islam. Meskipun nggak saling kenal, beda bahasa, beda ras, beda budaya, beda negara, it doesn't matter. Dan kalau kita sudah bisa memperlakukan saudara sendiri dengan baik, maka kita juga akan bisa melakukan yang sama ke orang lain.
Di sini, dengan hijab yang aku pakai, memang sepertinya semua orang bisa mengenali aku sebagai seorang muslim. Dan aku suka. Waktu ke Swiss, ada yang nyamperin, "muslim?" terus ngajak ngobrol, sayangnya terkendala bahasa. Dia ngomong pakai bahasa perancis, sementara aku ngertinya cuma 'oui', sama ngenalin nama. Pernah juga ketemu pedagang, lagi nawarin dagangan, terus bilang, "muslim. Assalamualaikum." Juga pernah makan di tempat makan dan diingetin untuk baca bismillah. Beberapa kali aku papasan sama orang terus ada yang ngucap salam juga. Atau ketemu seorang ibu berhijab yang senyum saat melihatku. I know why, "because she knew I'm muslim." Waktu nyari tempat sholat di kampus juga ada yang nanya, "prayer room?" dan dia langsung menunjukkan tempatnya. Karena hijabku, dia bisa nebak tujuanku meskipun aku nggak nanya sebelumya. Jujur, hal-hal seperti itu sangat berarti. I feel peaceful. Meski aku berada di tempat yang nggak terdengar suara adzan. I know I'm not alone.
![]() |
| Me and my hijab |
Tapi, sebenarnya juga aku punya tanggung jawab yang besar. Karena dengan hijabku, orang bisa langsung tahu kalau aku muslim. Secara nggak langsung, mereka juga akan melihatku sebagai representasi islam. Mungkin, mereka akan menilai islam dari apa yang mereka lihat di aku. I don't know. Somehow I feel that I'm not a good muslim. Aku takut kalau mereka melihat keburukan dariku mereka akan mengaitkannya dengan islam. Semoga nggak.
Apapun itu, aku suka saat dikenali sebagai muslim.









