Selasa, 01 Januari 2019

Because You are Muslim

Dua hari lalu aku ke stasiun Rotterdam Centraal karena temanku main ke Rotterdam. Karena aku datangnya terlalu awal, jadinya aku nunggu di dalam stasiun, tapi masih di luar gate tempat tap tiket. Aku duduk di dekat tourist information sambil main hp. Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki nyamperin, tapi nggak ikut duduk, masih berjarak 2 meter-an lah.
Dia nanya tapi pake bahasa asing, kayaknya belanda. Jadi aku langsung ngomong, "sorry, I can't speak …"
Terus, dia langsung ganti bahasa ke inggris.
"Are you okay?" Tanyanya. "Karena aku lihat kamu duduk di sini cukup lama."
"Oh, yeah, I'm fine. I am just waiting for my friend." Jawabku.
"Baguslah. Kamu cukup lama disini, jadi aku tanya." Intinya begitu, dia tampak lega karena mungkin sebelumnya dia khawatir aku ada masalah gitu.
"Because you are muslim," lanjutnya.
"Thank you."
"OK, have a nice day."

Dan aku bahagia, waktu dia bilang, "because you are muslim." Harusnya begitu memang, seorang muslim dengan muslim lainnya, saling peduli, perhatian. Karena Allah. Dan dia menunjukkan padaku bagaimana seorang muslim yang baik dengan sikapnya. Karena sesama muslim itu saudara, this is what I like about islam. Meskipun nggak saling kenal, beda bahasa, beda ras, beda budaya, beda negara, it doesn't matter. Dan kalau kita sudah bisa memperlakukan saudara sendiri dengan baik, maka kita juga akan bisa melakukan yang sama ke orang lain.

Di sini, dengan hijab yang aku pakai, memang sepertinya semua orang bisa mengenali aku sebagai seorang muslim. Dan aku suka. Waktu ke Swiss, ada yang nyamperin, "muslim?" terus ngajak ngobrol, sayangnya terkendala bahasa. Dia ngomong pakai bahasa perancis, sementara aku ngertinya cuma 'oui', sama ngenalin nama. Pernah juga ketemu pedagang, lagi nawarin dagangan, terus bilang, "muslim. Assalamualaikum." Juga pernah makan di tempat makan dan diingetin untuk baca bismillah. Beberapa kali aku papasan sama orang terus ada yang ngucap salam juga. Atau ketemu seorang ibu berhijab yang senyum saat melihatku. I know why, "because she knew I'm muslim." Waktu nyari tempat sholat di kampus juga ada yang nanya, "prayer room?" dan dia langsung menunjukkan tempatnya. Karena hijabku, dia bisa nebak tujuanku meskipun aku nggak nanya sebelumya. Jujur, hal-hal seperti itu sangat berarti. I feel peaceful. Meski aku berada di tempat yang nggak terdengar suara adzan. I know I'm not alone.

Me and my hijab


Tapi, sebenarnya juga aku punya tanggung jawab yang besar. Karena dengan hijabku, orang bisa langsung tahu kalau aku muslim. Secara nggak langsung, mereka juga akan melihatku sebagai representasi islam. Mungkin, mereka akan menilai islam dari apa yang mereka lihat di aku. I don't know. Somehow I feel that I'm not a good muslim. Aku takut kalau mereka melihat keburukan dariku mereka akan mengaitkannya dengan islam. Semoga nggak.

Apapun itu, aku suka saat dikenali sebagai muslim. 

Kamis, 20 Desember 2018

Kuliah di luar negeri = pintar banget?

Sebelum kuliah di sini (RSM, Erasmus University), aku sempat mikir, apa aku bisa? Tentu saja itu pertanyaan dasar yang harus dipikirkan, bukan untuk yakin, tapi untuk mempersiapkan diri. Karena kalau untuk yakin, sampai saat ini aku pun masih belum yakin. Setiap hari ada saja tantangan baru yang memaksaku untuk berusaha lebih dan lebih. Aku penakut banget, penuh keraguan. Aku nggak pernah ke luar negeri sebelumnya. Aku pun cuma anak kampung dan nggak ada contoh ataupun gambaran dari lingkungan terdekat seperti apa nantinya kuliah di sini. Tentu saja banyak imajinasi yang menakutkan, karena aku sering memikirkan kemungkinan terburuk dari setiap keputusan yang akan aku ambil. Tapi apakah seorang penakut nggak bisa meraih impiannya? Kurasa ketakutan itu ada gunanya juga agar kita mengusahakan yang terbaik, jadi nggak apa-apa.

Dan hanya karena pertolongan Allah lah akhirnya aku sampai di Belanda. Saat itu, di hari-hari pertamaku, seperti biasa setiap harinya terlihat burung-burung berterbangan dari jendela kamarku. Saat itu aku berpikir, burung-burung ini saja bisa lho bertahan dan tinggal di Belanda. Kalau burung-burung ini saja Allah bantu untuk menjalani hidupnya, aku berharap Allah pun akan menolongku setiap waktu. Saat itu, aku mulai yakin untuk menjalani kehidupan perkuliahan di sini, bukan karena yakin akan kemampuanku, tapi aku yakin Allah akan selalu memberikan pertolongan-Nya.

Salah satu yang jadi pertanyaanku adalah sepintar apa teman-teman sekelasku? RSM adalah business school terbaik di Belanda dan masuk kategori sepuluh terbaik di Eropa. Membayangkannya saja ngeri. Ternyata, memang mereka sangat pintar. Jadi mungkin anggapan kalau anak yang kuliah di luar negeri itu pintar banget, mungkin ada benarnya. Tapi bukan itu poin utamanya. Sepintar apapun, ternyata tidak ada yang bisa didapatkan dengan mudah di sini. Mereka bukan sekadar pintar, tapi dibalik itu mereka belajar rajin sekali. Benar-benar rajin. Rajin belajar bukanlah hal yang 'wah' lagi, karena hampir semua mahasiswa serajin itu. Pantas saja mereka begitu paham dengan materi dan dapat hasil ujian yang baik. Tidak hanya modal pintar lalu santai-santai saja. Tapi mereka mempersiapkan dengan baik.

EUR's Library


Dan buatku, mengikuti kebiasaan mereka sangat susah. Karena aku tidak serajin itu saat sebelumnya. Membangun kebiasaan baik itu berat, karena kita harus mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan kebiasaan yang sudah lama kita jalani untuk menjalani hidup yang lebih baik. Di sini semuanya berjalan cepat, materi pun sangat banyak dan padat. Setiap satu setengah bulan, sudah ujian. Tidak ada minggu tenang seperti saat aku S1 dulu. Masih sangat susah buatku untuk membagi waktu antara tugas dan belajar untuk ujian. Karena tugas pun seringkali butuh waktu yang sangat lama sejak dikerjakan hingga sampai di hasil akhir. Dan aku biasanya, kalau sudah terfokus untuk satu hal, akan sangat susah untuk membagi fokus untuk hal lain.

Intinya, seberapa pintar teman sekelas itu bukanlah suatu masalah. Secemerlang apapun temanmu tidak akan membuat nilaimu berkurang, kan. Masalahnya adalah bagaimana kamu bisa mengalahkan diri sendiri dan menjadi versi terbaik dirimu. Itu susah banget. Aku masih terus berusaha, semoga bisa.

Rabu, 21 November 2018

Sometimes I wanna Cry

Sky - Rotterdam

Look at that sky, it's so beautiful, isn't it?
One of my favourite to see in Rotterdam is the sky. It is cloudy sometimes, you may cannot see the sun, but I like it.

Cube houses, Rotterdam

or you may want to see this unique houses? It's so close from where I live. I probably can see it everyday if I want. You may say I'm lucky, yes I am.

But this is not what I want to write. This is just what you see.

So you should know that when somebody posts a great picture doesn't mean that he or she is as happy as you imagine. You never know, really.

Well, I just wanna say that this week I feel like it is so hard. I feel like I just wanna skip this week because I can't imagine what situation that might even worse than this. I just feel like I'm gonna quit, but I will never quit.

And, yeah, just because I post this writing doesn't mean I wanna show you how bad my English is. I just feel like I don't know what to do to make the situation, or at least my feeling, better. So I prefer doing what I was really like... a long time ago, write this blog.

And I don't know who you are, maybe someone, maybe nobody will read this. But if you are here reading my writing, if you feel so bad and you are struggling in your life, you're not alone. I feel you.

And if you are so happy with your life now, maybe you can share your happiness. You will never be less happy by doing that, you will be happier, trust me. And should I tell you that the simple little things that you do for someone probably can make their life better? You never know.

When I feel lonely, sad, worry, even a warm greeting from a stranger can make me feel better. Well, it happened several times in my life, so I know for sure. I am so happy to know that I can always meet kind people in my life.

I don't really know what I am writing, though... This is what's in my mind, and there are more, of course. But probably I will end my writing now. Hopefully you find it useful, and if it's not, at least, you know what I do not tell to anyone...

Kamis, 15 November 2018

Bertahan

Setiap hari adalah tantangan, setiap hari adalah ketakutan. Kadang detak jantung tak lagi santai, cemas akan ketidaktahuan tentang masa depan.
Begitu yang aku rasakan, sejak aku berada di sini. Di tempat yang sangat nyaman, yang sudah lama kuimpikan, Rotterdam.

Autumn in Rotterdam


Tiap hari aku bertanya-tanya, mampukah aku melewati semua ini? Dan di ujung hari terselip rasa syukur, aku bisa melewatinya. Mungkin tidak sempurna, mungkin penuh kekurangan, tidak mengapa. Pagi selalu datang bersama harapan.

Tak jarang terdapat doa mengiringi setiap kayuhan sepeda menuju tempatku belajar. Semoga Allah berikan kekuatan, semoga Allah berikan pertolongan. Mungkin hampir disetiap perjalanan kembali ke rumah, aku hanya bisa tersenyum. Ayolah, ini yang kamu inginkan. Berjumpa dengan setiap kesulitan, apa lagi yang kamu bayangkan?

Lalu hatiku merasa nyaman. Benar, setiap hari selalu mendapat tantangan, berarti setiap hari pula selalu ada ruang untuk berkembang. Kalau begitu mudah, mungkin nggak akan ada yang berubah kan? Kita akan tetap di titik yang itu-itu saja, menjadi pribadi yang tidak ada perubahan.

Menghadapi setiap waktu yang terasa berat, aku merasa saat itulah Allah memberi kesempatan untuk memperbaiki diri, menjadi versi yang lebih baik dan lebih baik lagi.

Kurasa, inilah inti dari semua ini, "belajar." Ini adalah tujuanku.
Bukan hanya dari buku, paper, kelas, tapi dari semua hal, dari semua yang terjadi.
Sebuah jalan yang selalu terbentang, untuk yang tak henti berjuang.

Selasa, 23 Oktober 2018

Bulan yang sama

Bulan dimalam ini sangat indah. Purnama. Bulat, terang. Berulang kali awan menutupinya, berulang kali pula bulan menampakkan dirinya.
Bulan Purnama (mencoba ambil foto dari kamar)

Sebenarnya aku ingin mengabadikannya, tapi hasil di kamera HP tidak bisa menjangkaunya, tidak bisa menangkap keindahannya dengan sempurna.
Alhamdulillah, masih diberi kesempatan Allah untuk mengagumi ciptaan-Nya.
Malam ini sangat indah. Lampu temaram, desiran angin. Gelap dan cahaya jadi perpaduan yang indah. Ya, indah. Aku kehabisan pilihan kata, jadi indah saja aku menyebutnya.
Mencoba foto lagi, dan hasilnya tetap begini

Malam ini, aku ingin mengajakmu untuk melihat bulan juga. Karena, dimanapun kita berada, bulan yang kita lihat adalah bulan yang sama.

22:32
Dari kamar kost, sekian jarak dari dimanapun kau berada.

Jumat, 05 Oktober 2018

Susahnya Kuliah di Luar Negeri (part 2): Ngerjain Tugas Kelompok

Hai, lanjut lagi ceritanya.
Kali ini aku mau cerita apa yang aku rasakan saat kerja kelompok. Jadi, mata kuliahku ada dua untuk babak pertama ini. "IFR (International Financial Reporting) " dan "FI (Financial Information and Decision Making)". Aku akan cerita juga tentang kedua mata kuliah ini di tulisan selanjutnya. Tapi untuk saat ini, aku mau fokus di workshop-nya aja.

Erasmus University Rotterdam (dan sepeda tercinta)

Baik IFR maupun FI punya jadwal workshop satu kali seminggu. Nah, di tiap workshop, kita diminta untuk membentuk grup untuk ngerjain tugas kelompok nantinya. Di mata kuliah IFR, masing-masing grup terdiri dari tiga orang. Karena seperti ceritaku di tulisan sebelumnya bahwa di awal perkuliahan aku nggak kenal siapapun, akhirnya aku daftar workshop secara individu dan nanti akan dipilihkan teman segrup dari mahasiswa yang mendaftar secara individu juga.

Pada pertemuan pertama workshop IFR, aku bertemu dengan teman sekelompokku dari Taiwan dan Jerman. Di setiap workshop aku duduk dengan mereka untuk mengerjakan tugas kelompok yang harus diselesaikan di kelas dan dikumpulkan saat kelas berakhir. Jujur, aku sangat kesulitan untuk mengerjakan tugas kelompok ini.

Mereka sangat pintar, sangat cepat cara berpikirnya, dan punya latar belakang akuntansi yang kuat. Sementara aku, memang dari jurusan akuntansi juga, tapi jujur ilmu yang sudah aku pelajari seakan terkikis begitu saja. Memang sangat menyenangkan mempunyai teman satu kelompok yang pintar, tapi bagiku itu beban. Aku merasa nggak terlalu berkontribusi dalam menyelesaikan soal-soal. Nggak jarang, saat aku masih membuka-buka buku untuk mencari jawaban, mereka berdua sudah berdiskusi dan punya jawaban. Atau kadang, saat aku bener-bener nggak punya ide bagaimana cara menjawab soal, mereka bisa menyelesaikannya dengan mudah. Aku sadar masalahku ada tiga:
1. Aku memang nggak terlalu bagus dalam kelompok. Bahkan sejak S1 kayaknya, aku lebih suka mengerjakan sesuatu sendiri, jadi dalam kelompok aku bisa terlalu pasif atau terlalu dominan kadang.
2. Kecepatanku dalam menyelesaikan soal cukup lambat, apalagi dibandingkan dengan mereka.
3. Materi yang aku kuasai sangat kurang.

Karena perasaan bersalah, aku mencoba mengatasi masalahku. Aku mencoba membaca dulu bab-bab yang akan dibahas di workshop, menemukan poin pentingnya. Tapi sejauh ini masih belum berdampak banyak. Untungnya, teman kelompokku baik, mereka bahkan membantu menjelaskan jawaban yang tidak aku mengerti. Meskipun begitu, aku merasa nggak enak banget dan aku akan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi.

Untuk workshop FI beda lagi. Kita diminta untuk membentuk grup yang terdiri dari 4 orang. Awalnya, aku nggak tahu mau sekelompok sama siapa. Alhamdulillah, aku diajak gabung sama teman yang duduk disebelahku saat itu. Akhirnya aku satu kelompok dengan tiga teman dari Belanda. Mereka udah sangat akrab, tapi mereka juga menghargai aku sebagai anak baru, jadi aku nyaman di kelompok itu.

Nah, untuk workshop FI sendiri, tiap-tiap kelompok diberi case yang harus dipresentasikan, meskipun di tiap workshop sebenarnya kita dituntut untuk sudah menyelesaikan setiap case, baik yang dipresentasikan atau tidak. Jadi ketika ada kelompok yang presentasi, kita bisa mengikuti dengan baik.

Kelompokku mendapat jatah presentasi di workshop pertama. Buatku, sangat susah memahami case-nya. Meskipun bukan case yang harus diselesaikan di kelas, tugas kelompok ini tetap punya tantangan tersendiri. Kami harus berkumpul beberapa kali untuk membagi tugas dan menyiapkan presentasi. Sekali lagi, masalahku adalah aku cukup lambat dalam mengerjakan tugas itu, jadi butuh waktu cukup lama. Sementara kelompokku juga punya deadline tersendiri jadi kita bisa saling mengoreksi kerjaan masing-masing anggota sebelum akhirnya punya jawaban final. Nggak mudah, karena aku pun ingin bersikap profesional di kelompokku dan mengerjakan tugas dengan baik.

Akhirnya di workshop pertama kami presentasi. Presentasi pertamaku. Bener-bener sangat cemas dan tegang. Kalau di negara sendiri, pakai bahasa sendiri, oke lah, presentasi itu nggak susah buatku. Meskipun aku introvert yang suka ngerasa kikuk saat berhadapan dengan orang, tapi untuk presentasi aku bisa percaya diri asal punya persiapan yang baik. Tapi di workshop ini, benar-benar sesuatu yang beda. Penontonnya adalah mahasiswa dari berbagai negara. Rasanya, nggak bisa dideskripsikan. Mungkin kayak naik roller coaster di posisi depan dan lihat beberapa detik lagi roller coasternya akan meluncur ke bawah. Ya, gitu lah pokoknya.

Alhamdulillah, cukup sekali aja presentasinya untuk mata kuliah ini. Tapi tugas kelompok belum berakhir. Masih ada dua case yang harus kami selesaikan, dan masing-masing case punya poin yang lumayan tinggi. Aku masih terus berusaha untuk mengerjakan case dan bekerjasama dengan baik, dan masih kesulitan menemukan cara untuk menyelesaikan tugas dalam waktu yang lebih singkat tapi jawabannya bisa tepat.

Begitulah kesulitanku mengerjakan tugas kelompok di tiap mata kuliah. Tentu, masih ada lagi kesulitan lain yang aku hadapi saat kuliah di Rotterdam ini. Akan aku ceritakan di tulisan berikutnya, insya Allah.

Senin, 10 September 2018

Susahnya Kuliah di Luar Negeri (part 1): Cerita Seminggu Pertama Kuliah

Hai, kali ini aku mau berbagi kesusahan yang aku rasakan sejak kali pertama kuliah di program MScBA Accounting & Financial Management, Rotterdam School of Management.

Erasmus University Rotterdam

Kenapa susahnya aja? Karena aku yakin kalo sukanya pasti sudah banyak yang tahu. Sudah banyak mahasiswa di luar negeri yang berbagi tentang ini tentunya. Atau dengan menebak sendiri, kalian juga bisa tahu. Aku rasa, kalau melihat sesuatu yang kita inginkan, kita akan melihat enaknya saja, dan kalau menghadapi sesuatu yang kita takutkan, kemungkinan yang akan terlihat adalah hal yang buruknya saja. Padahal sebenarnya sih nggak ada hal yang buruk. Setiap yang terjadi adalah kehendak-Nya, jadi itu pasti yang terbaik. Cuma kadang, kita sudah paham teorinya, tapi praktiknya mungkin beda lagi.

Sejak tanggal 6 September 2018, aku sudah mulai kuliah. Sebenarnya tanggal 3 dan 5 September 2018 ada orientation days, semacam acara sebelum masuk ke perkuliahan, jadi bisa ketemu sama teman-teman sejurusan. Sayangnya aku nggak ikut, karena harus bayar dan saat itu aku belum punya kartu kredit (sampai sekarang sih), dan saat hari terakhir aku mau daftar, ada kendala teknis.

Rasanya masuk kuliah tanpa kenal seorangpun itu sangat nggak enak. Hari pertama kuliah, kelasnya besar, dengan jumlah mahasiswa sekitar 90 lebih. Seharusnya, dengan umur yang sudah sedewasa ini, harusnya aku bisa tenang. Harusnya. Tapi ini adalah pertama kalinya aku merasakan kuliah di luar negeri, dengan mahasiswa yang sangat beragam dari berbagai negara. Ditambah lagi, terakhir kali aku kuliah adalah 3,5 tahun yang lalu.

Kelas yang aku masuki bentuknya seperti bioskop, nggak sama persis tapi mirip. Saat itu yang aku pikirkan adalah aku harus punya kenalan. Akhirnya aku berhasil ngobrol dengan mas dari Italia yang duduknya jarak satu bangku denganku. Sebenarnya menurutku, di sini anak-anaknya baik kalua diajak ngobrol, lebih responsive gitu. Mereka helpful. Hanya saja, aku belum nemu caranya gimana bias membangun pertemanan yang bagus. Beda budaya, beda latar belakang, itu nggak masalah sebenarnya. Mungkin perlu waktu untuk lebih mengenal aja.

Ruang Perkuliahan, Erasmus University Rotterdam

Oh ya, aku introvert. Buat sebagian orang, mungkin masalah pertemanan itu hal kecil. Tapi buat aku beda lagi. Sebenarnya, aku nggak terlalu suka dengan percakapan yang menanyakan hal-hal ringan seperti: kamu dari mana? dulu kuliah di mana? dll. Tapi, mau nggak mau itu juga dibutuhkan apalagi di sini. Sebagai anak baru yang nggak kenal siapa-siapa, kalau diam aja terus susah juga untuk kenal yang lain. Apalagi sebagian besar kayaknya udah punya circle pertemanan sendiri-sendiri.

Ya, jadi itu kesusahan pertama. Masalah teman. Sepele mungkin. But, honestly, sometimes I feel lonely. Padahal sebenarnya sebagai introvert, kemana-kemana sendiri, menghabiskan waktu di kamar, itu bukan masalah. Betah-betah aja. Yang jadi masalah adalah saat ada yang nanya, "eh kok kemana-mana sendiri sih? nggak punya teman atau gimana?" Di saat itulah kadang aku jadi mikir, emang salah ya? Begitulah, terlalu mikirin omongan orang. Di sini, beda lagi. Bukan hal aneh lagi lihat orang-orang punya aktivitas sendiri. Nggak ada yang peduli atau mikir aneh-aneh tentang itu. Mungkin ada sih, tapi nggak diutarakan. Di sini, saat nggak mudah nemu orang yang suka ikut campur urusan orang. Di titik ini aku ngerasa bahwa aku sendirian.


Cerita ini belum selesai. Aku akan lanjutin ceritanya lain kali. See you.