Kamis, 20 Desember 2018

Kuliah di luar negeri = pintar banget?

Sebelum kuliah di sini (RSM, Erasmus University), aku sempat mikir, apa aku bisa? Tentu saja itu pertanyaan dasar yang harus dipikirkan, bukan untuk yakin, tapi untuk mempersiapkan diri. Karena kalau untuk yakin, sampai saat ini aku pun masih belum yakin. Setiap hari ada saja tantangan baru yang memaksaku untuk berusaha lebih dan lebih. Aku penakut banget, penuh keraguan. Aku nggak pernah ke luar negeri sebelumnya. Aku pun cuma anak kampung dan nggak ada contoh ataupun gambaran dari lingkungan terdekat seperti apa nantinya kuliah di sini. Tentu saja banyak imajinasi yang menakutkan, karena aku sering memikirkan kemungkinan terburuk dari setiap keputusan yang akan aku ambil. Tapi apakah seorang penakut nggak bisa meraih impiannya? Kurasa ketakutan itu ada gunanya juga agar kita mengusahakan yang terbaik, jadi nggak apa-apa.

Dan hanya karena pertolongan Allah lah akhirnya aku sampai di Belanda. Saat itu, di hari-hari pertamaku, seperti biasa setiap harinya terlihat burung-burung berterbangan dari jendela kamarku. Saat itu aku berpikir, burung-burung ini saja bisa lho bertahan dan tinggal di Belanda. Kalau burung-burung ini saja Allah bantu untuk menjalani hidupnya, aku berharap Allah pun akan menolongku setiap waktu. Saat itu, aku mulai yakin untuk menjalani kehidupan perkuliahan di sini, bukan karena yakin akan kemampuanku, tapi aku yakin Allah akan selalu memberikan pertolongan-Nya.

Salah satu yang jadi pertanyaanku adalah sepintar apa teman-teman sekelasku? RSM adalah business school terbaik di Belanda dan masuk kategori sepuluh terbaik di Eropa. Membayangkannya saja ngeri. Ternyata, memang mereka sangat pintar. Jadi mungkin anggapan kalau anak yang kuliah di luar negeri itu pintar banget, mungkin ada benarnya. Tapi bukan itu poin utamanya. Sepintar apapun, ternyata tidak ada yang bisa didapatkan dengan mudah di sini. Mereka bukan sekadar pintar, tapi dibalik itu mereka belajar rajin sekali. Benar-benar rajin. Rajin belajar bukanlah hal yang 'wah' lagi, karena hampir semua mahasiswa serajin itu. Pantas saja mereka begitu paham dengan materi dan dapat hasil ujian yang baik. Tidak hanya modal pintar lalu santai-santai saja. Tapi mereka mempersiapkan dengan baik.

EUR's Library


Dan buatku, mengikuti kebiasaan mereka sangat susah. Karena aku tidak serajin itu saat sebelumnya. Membangun kebiasaan baik itu berat, karena kita harus mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan kebiasaan yang sudah lama kita jalani untuk menjalani hidup yang lebih baik. Di sini semuanya berjalan cepat, materi pun sangat banyak dan padat. Setiap satu setengah bulan, sudah ujian. Tidak ada minggu tenang seperti saat aku S1 dulu. Masih sangat susah buatku untuk membagi waktu antara tugas dan belajar untuk ujian. Karena tugas pun seringkali butuh waktu yang sangat lama sejak dikerjakan hingga sampai di hasil akhir. Dan aku biasanya, kalau sudah terfokus untuk satu hal, akan sangat susah untuk membagi fokus untuk hal lain.

Intinya, seberapa pintar teman sekelas itu bukanlah suatu masalah. Secemerlang apapun temanmu tidak akan membuat nilaimu berkurang, kan. Masalahnya adalah bagaimana kamu bisa mengalahkan diri sendiri dan menjadi versi terbaik dirimu. Itu susah banget. Aku masih terus berusaha, semoga bisa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar